Denis 2005

Apa doni benar – benar serius…. hatiku terus bertanya – tanya, sampai akhirnya hpku berdering lagi. Setelah ku buka.

”Oh…….. kak Arif”desisku bukan yang diharapkan.

Bagaimana kalau dia serius? Hatiku masih terus bertanya, aku juga tidak tahu apa yang aku harus lakukan kalau kata – kata doni kemaren merupakan kata – kata cinta ya istilah kerennya nembak githo….

Apa aku harus tanya lagi ke dia yach ”gumamku sendiri.

Bibirku terus komat – kamit nggak karuan.

Namun tak lama kemudian hpku berdering, kuperhatikan ternyata 1 missed call dari doni. Nampaknya dia ingin aku menanggapinya. Tak berapa lama ku balas dengan missed call, demikian sebaliknya doni kembali missed call.

”Don … don dasar lo aneh”ejekku senang.

Tak lama sms dari doni sampai ke hpku.

Doni: ngapain denis?

Pertanyaan cari alasan nech? Bisikku dalam hati.

Ku balas sekenanya.

Denis : missed callin kamu.

Doni : gimana yang semalam?

Denis : yang semalam yang mana maksudmu?

(alasan nech pura – pura nggak ngerti)

Doni : tentang aku jadi ama kamu

Denis : kamu jangan becanda ach don

Doni : nggak kok aku serius. Masa aku becanda, soal ini kapan sich aku becanda.

Denis : yach terus mau kamu gimana?
Doni : mau aku ya … kamu bilang iya.

Denis : ya … iya dah

Doni : jadi sekarang gimana?

Wajah ku tiba – tiba memerah, entah sejak kapan rasa suka pada doni mulai tumbuh, kenapa aku bilang iya ke doni. Alamak mati aku, trus aku harus gimana nech …?

dueh yang smsan dari tadi, dari sapa sich kok senyum – senyum aja dari tadi“ suara Tya mengagetkan aku.

„ah… biasa lah ya, kamu kaya nggak ngerti aja“ kilahku malu.

alah ..ayo siapa?.“desak tya padaku.

“iya … denis dari tadi senyum sendiri, trus komat kamit nggak karuan. “ jelas Tari menimpali.

” waduh kalian kok kompak sich pada ngerebek aku nich”ilahku.

”ayo .. bagi – bagi kita donk gembiranya” kata Tya memaksa.

”ok.. ada someone. Tapi entar dah kalo udah OK baru aku bilang kalian yach ?”jelasku.

Teman – teman sekos ku memang perhatian, yach memang sudah sejak lama kami bersama hingga kuliah kami bareng, dan alhamdulillah hingga sekarang persahabatan kami terjaga.

”Ya sudah kami nunggu aja dah ”jelas Tya yang membuat tenang hatiku.

”Eh tapi aku bingung nich friend, aku harus gimana yach?’’tanyaku membuka permasalahan.

Kudengar hpku berdering kembali, nampaknya missed call. Doni pasti menunggu balasan dariku, tapi aku cuekin aja.

hp mu tuh bunyi”Tari melototiku.

„udah pastiin dulu baru cerita ama kita, OK?“jelas Tari yang membuatku semakin bingung.

Sebenarnya yang kubingungkan apa benar kalau kata – kata itu penembakan namanya seperti acara infotaiment di tv tv seperti katakan cinta gitu? Jadi aku bingung kami resmi pacaran atau apa nech?

Setelah sendiri dikamar dan berpikir jernih, kuberanikan diri sms doni.

Denis : don, sorry tadi aku makan dulu jadi nggak sempet bales sms mu.

Doni : oh nga papa kok, jadi gimana yang tadi?

Denis : yach iya kan.

Doni : ya maksud aku status kita sekarang.

Denis : ya aku ikut kamu aja, sekarang kamukan sebagai laki – laki yang berhak memberikan keputusan, cewekan cukup bilang iya atau nggak.

Doni : ya udah klo gitu, aku putusin bahwa sejak malam ini kita pacaran. Dan mulai malam ini juga kamu jadi pacar aku kan.

Denis : gitu ? ya ok lah.

Sebenarnya hatiku benar – benar berbunga malam itu entah sejak kapan aku bisa menemukan cintaku di tempat yang jauh dari tempat impianku dulu, entah sejak kapan aku menemukannya.

Semenjak malam itu aku dan Doni berusaha menutupi hubungan kami dari publik hehehe… macam selebritis aja, wow memang sich , tapi ternyata walau sebagus apa kita simpan, lama kelamaan akhirnya orang – orang pada tau deh.

Dua hari setelah malam itu kami ada kuliah bersama ekonomi perusahan, yang kebetulan 4 kelas anak – anak tex digabung menjadi satu dalam suatu gedung. Wah hari itu begitu heboh lluar biasa, anak – anak riuh rantah saling canda dalam kuliah pagi itu. Doni sembari melirik dan tersenyum padaku. Seketika aku langsung menunduk malu. Perasaanku sangat senang, entah bisa diibaratkan apa dalam majas personifikasinya atau hiperbola lah.

Sepulang kuliah aku berjalan perlahan, doni menyusulku dari belakang. Dia melayangkan cubitan kecil di bahuku, lalu ia tersenyum,

”Jadi kita udah nech Don?”tanyaku membuka perbincangan.

”Hus … entar kedengar orang”Bantahnya sambil kemudian tersenyum.

’’ ya ku kan Cuma tanya ” tambahku sambil mencibir.

”Iya de…iya ” jawabnya sembari merangkulku hangat.

”He … kamu ngapain sich ?” tanyaku sambil berusaha melepaskan rangkulan doni dari bahuku.

”Eh … biasanya juga aku bikin kamu kaya gini kan? Mereka nggak akan ngira kalo kita udah jadian.’’ Jelasnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Hari itu awal cerita ku dengan doni. Banyak hal yang sudah ku lalui, namun baru kli ini aku merasakan indahnya cinta. Doni memang lebih muda dari aku, namun perhatiaanya menyembunyikan usia mudanya dariku. Namun walau bagaimanapun manjanya masih juga kambuh sich.:)

Tiga hari berlalu, Doni ngajakin ngedate. Malam itu sabtu malam alias malam minggu, Doni ngajak aku nonton film di twentyone (wualah nyebute kok susah banget yah?hehehe). The Ring 2, Cinema horor. Wah film yang kugemari. Aku memaksa doni untuk mengantri karcis masuk cinema itu. 5 menit menunggu kami beserta penonton yang lain sudah dipersilahkan masuk studio 4.

Dari awal cerita doni sudah mulai tertarik dengan kisah tokohnya, dia bertanya padaku dan aku menjelaskan, begitu seterusnya. Keakraban mulai tercipta antara aku dan Doni, sesekali doni mengangkat kedua kakinya, dan kemudian tersenyum padaku sembari mencubit kedua pipiku. Aku hanya bisa tersipu malu. Hingga film berakhir kami masih saling pandang dan tersipu. Sesekali Doni merangkulku hangat.

Pulang dari bioskop, Doni menggenggam erat tanganku. Kami melangkah menyusuri jalan seputar alun – alun kota hingga jembatan penyebrangan. Malam yang dingin saat itu menjadi terasa hangat dengan cinta kami berdua.

Namun semakin dekat halte, tiba – tiba saja Doni melepaskan genggamannya. Aku tersentak kaget, kulirik doni. Kulihat mulutnya komat – kamit. Aku jadi bingung, tak lama sembari mendekati angkot, nampak kedua teman sekampusku. Mereka tersenyum curiga.

” Hei….. don, kena lo… hayo gandengan tangan nech” ejek Bani sembari memukul punggung doni, doni hanya tersenyum.

”Dari mana kalian?”tanya dedi dengan senyumnya

” Ya .. taulah ”Jawab Doni sambil bercanda.

”Den … hati – hati sama doni, dia buaya juga loh”Canda bani melirik padaku.

”Iya ban aku tau.”Jawabku sekenanya.

Perjalanan pulang agak kurang menyenangkan, ada Bani dan Dedi, apalagi besok. Bahaya nich anak – anak semua bakal tahu kalau aku dan Doni ada apa = apanya.

Doni : De… sudah tidur belum?

Sms doni mengagetkanku.

Denis : belum don, memangnya kenapa?

Doni : nga papa, aku Cuma mau tanya, seandainya anak – anak di kelas pada tau semua tentang kita gimana de?

Denis : ya nggak papa, asal jangan teman – teman aku di kos aja,

Doni : tapi Ratih sudah tahu de gimana?

Denis : hah … yg bener, mang dia tau dari mana, ?

Doni : tadi dia tanya aku, trus aku bilang iya, ya masa aku bohong de?

Denis : ya nggak papa, trus dia bilang apa ke kamu?

Doni : selamat ya, kamu jaga dia baik – baik dan jangan pernah mainin dia, gitu dia bilang.

Denis : Oh,,, nggak ada bilang apa – apa lagi, bis tadi pas pulang sikap mereka ke aku kok jadi aneh ya don.

Doni : nga ada , tapi aduh aku salah kirim neh, sms yang tadi aku kirim kekamu, terkirim ke Ratih.

Denis : Masa sich?

Doni : tapi nga papa kok kan dia udah tau juga.ya sudah kamu bobo aja yach aku juga ngantuk nich.

Denis : ya udah aku bobo. Kamu juga yach n mimpi indah

Doni : jangan lupa mimpiin aku. ILOVEU

Sms kami berakhir sekitar pukul 24:00, setelah shalat malam dan berbenah diri, kulambungkan tubuhku diatas kasur hangat pengantar tidurku yang insya allah akan dihiasi mimpi indah dengan Doni, hehehe…..

Pagi tiba, seperti sedia kala, aku meneruskan aktifitasku sebagai mahasiswi kampus yang lumayan rajin, hehe…

Namun entah sejak kapan teman – teman sekos ku sepertinya agak menjauh. Bukan Tya dan Tari, tapi yang lain. Entah ada apa sebenarnya, namun sekiranya aku akan menutup mataku dan membiarkan semua berlalu.

Kuliah kelar, dengan lemah kulanjutkan langkahku menyusuri jalan pulang, hari ini aku tak bertemu doni, sedikit rindu rasanya. Kuharap doni menghubungiku nanti.

Sesampainya dikos, dengan lamban ku buka kamar kosku, ku masukkan anak kunci dengan perlahan, nyaris tanpa suara. Namun seketika kulihat Tya sudah nampang didepan kamar kosnya yang pas berdepanan dengan kamar kos ku. Ku tatap dia nanar.

”lo kenapa de?”tanyanya dengan nada rendah dan nyaris tak terdengar.

”Bete ya”jawabku spontan.

”Mang bete kenapa lagi friend”lanjutnya bertanya

”rumor – rumor yang banyak ku dengar dan apa yang kudapatkan sekarang”jawabku mulai menjelaskan.

”emang rumor apaan?”tanyanya lagi

banyak ya”jawabku sambil membuka pintu, kulemparkan tasku keatas dipan, ku sandarkan punggungku kedaun pintu dan mulai bercerita.

”Ya kemarin kan aku pernah janji ke lo ama Tari buat cerita someone ya kan, ”tanyaku meyakinkan dibarengi anggukan tya tanda iya, akupun meneruskan ceritaku.

”Nah someone itu temen aku, temen lo juga,”

”Eh apa ada yang Tari belum tahu nech”Teriak Tari dari ruang tengah Kos kosan kami, ia datang dengan Nia, rupanya dia baru pulang dari kampus,

”Ah lo udah sini duduk n dengerin”Celoteh Tya sembari menarik tangan Tari, Nia tak ikut duduk iya memang salah satu temen sekosku yang type n caracternya nggak suka ngurusin permasalahannya orang.

”Jadi ngimana tadi de”sambung Tya mendesakku melanjutkan cerita,

”ya orang yang beberapa hari lalu smsn ama aku itu temen aku dan temen kalian juga”

Siapa?”Tanya mereka serentak, eeuuh kompak banget

”Doni”

”Hah…Doni ?!!??!!”

Teriak campur kaget Tya dan Tari bergegas mengelus dadanya dengan kedua tangannya.

”Lo nggak salah de?”Tanya Tari dengan mata terbelalak”Ach … kalian jangan terlalu mendramatisir gitu donk?

Aku juga nggak tahu kok bisa Doni”

Ya trus yang kamu bilang rumor – rumor itu apa?”tanya Tya sembari memperbaiki cara duduknya.

”aku bingung Ya, bis ada yang bilang kalo aku pager makan tanaman, padahal aku nggak tahu masalah itu dateng dari mana, trus aku jadi nggak enak sama anak – anak yang lain, masalahnya perlakuan mereka terhadap aku sekarang berubah jadi agak dingin, ku bingung”

”Ach mungkin perasaan kamu aja kali de”Jawab Tya menjelaskan

”buktinya tadi aku ditinggal pulang sendirian”Jawabku menjelaskan

”Loh mereka aja belum pada dateng kok, mungkin kamu yang keduluan dari mereka, mang kamu pulang bareng Doni yach?”tanya Tari.

”Nggak kok , trus tadi aku ngeliat mereka duluan kok, mau aku panggil tapi aku nggak enak jadi aku pulang sendiri aja”Jelasku menambahkan.

ya kayaknya kamu harus sabar de. Kita juga nggak tahu masalah mereka kekamu itu apa?”jawab Tya mencoba menenangkan hatiku.

Ya udah deh, aku mau mandi dulu. Kak Arif mau jemputin aku entar malem“

ya udah entar kalo kamu perlu pendapat kita, cerita aja yach“Kata Tari menawarkn jasanya, ceile kayak psikolog.

Semakin hari aku semakin dekat dengan Doni, apa yang aku tahu Doni juga tahu, apa yang di takuti Doni aku juga mengerti, semua berjalan baik walau sekali – kali ada pertengkaran kecil diantara kami. Ya … itu wajarkan. Namanya juga hubungan. Tapi … semakin hari semakin terlihat ada keanehan antara Doni dan Ratih. Terkadang aku memergoki mereka jalan berdampingan, walaupun tidak begitu sering. Namun perasaanku mengatakan ada sesuatu hal yang aku tak tahu selama ini. Tapi aku putuskan untuk diam. Aku tak mau persahabatanku dengan Ratih putus hanya karena hal ini. Walaupun bagi ku hal ini bukanlah hal yang kecil. Tapi….

”De…….. kamu kenapa sich ?”Tanya Doni dengan kasar. Entah kenapa kurasa Doni agak sedikit berubah. ” Nggak papa …” jawabku singkat .

”Ya sudah …. ” lanjut Doni dan langsung berlalu pergi.

Seketika ada sayatan halus yang mengenai ulu hatiku. Mataku mulai berkaca – kaca. Tapi ku tahan agar aku tak menangis. ”De ayo pulang”ajak Lino menghampiriku.

ku kedip – kedipkan mataku supaya tak nampak genangan air mata didalamnya ” Iya … ”Jawabku sembari tersenyum memaksa.

”Kamu kenapa sama Doni ?” Tanya Lino kemudian . Rupanya dia sadar dengan keadaan aku yang uring – uringan beberapa saat ini. ”nggak papa Lin” Jawabku menghindar, aku teringat janji ku pada Doni yang nggak akan menceritakan apa – apa dengan orang lain tentang masalah kami. Entah kenapa tiba – tiba saja aku menyadari ada keanehan pada Doni , mengapa aku nggak boleh ngomong padahal Lino teman dekat Doni. Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.

Sebulan kemudian aku mendapatkan banyak kebohongan yang sudah di lakukan Doni, aku nggak menyangka Doni setega itu. Aku berharap semua bukti yang kudapati tidak benar. Tapi hari itu sebelum magrib, aku terima telepon dari Doni sepulangnya dari Hiking bersama teman – teman Tex.

****** Bersambung To Denis Vs Cinta ****

Say your words